Andai Ia Berganti Judul Jadi "Aktivitas Paranormal" 12
Selasa, 22 Des '09 10:53
Bayangkan acara televisi Dunia Lain atau Uka Uka ditransfer ke dalam pita seluloid, bayangkan Anda merekam aktivitas di dalam kamar pada masa tidur malam. Bayangkan hal sesederhana itu kemudian dipertontonkan ke masyarakat umum dan mereka harus membayar untuk "menikmati" apa yang terjadi sepanjang malam (dan beberapa siang) dalam kehidupan Anda.
Jika aktivitas seks yang bisa saja Anda lakukan di atas ranjang juga direkam dan dipertontonkan, saya setuju bahwa inilah pencapaian sinema yang baik, walau tentu saja Ahmed dan Nanda sudah melakukannya 8 tahun lalu lewat "Bandung Lautan Asmara" Tapi jika kemudian yang direkam adalah kegiatan tidur tanpa ada apapun yang terjadi, saya rasa lebih baik saya buka saja website www.bangbrosnetwork.com yang melegenda itu. Lebih baik saya menonton kegiatan reality show yang jauh lebih berguna bagi kesehatan adrenaline saya, ketimbang musti nonton dua orang ngobrol ngalor ngidul membahas soal hantu yang bukan cuma tidak terlihat, tapi kehadirannya pun tak dapat dirasakan oleh saya yang menontonnya.
Oke, saya mungkin termasuk orang yang tidak percaya perkara makhluk halus, atau bisa jadi saya memang bukan penakut. Tapi saya pernah terloncat juga tuh saat nonton beberapa film bergenre horror yang jika saya sebut judulnya disini Anda akan berkata "Jangan dibandingin dong," padahal "Film adalah film....dan masing-masing sah saja untuk dikomparasi," Menyaksikan Paranormal Activity bisa menerobos pasar bioskop Indonesia membuat saya merasa betapa apesnya kita orang Indonesia, banyak sekali video amatir yang jauh lebih menakutkan tapi tak ada satupun studio besar macam MVP, MD, MILES atau yang lainnya mau membeli dan mengedarkannya.
Betapa video amatiran yang berkualitas isi jauh dibawah "Bandung Lautan Asmara" bisa kita saksikan di bioskop, lolos sensor LSF dan diresturi MUI!!! Bagi saya ini adalah sebuah pelecehan bagi akal dan budaya manusia Indonesia yang biasa hidup dibawah bayang-bayang makhluk halus di sekitar kita. Menyaksikan film yang durasinya sama sekali sudah saya tidak pedulikan lagi, seperti saya bahkan tak peduli siapa sutradaranya. Perasaan saya menjadi miris, karena terdapat jutaan karya sineas independen Indonesia dari jalur komunitas di luar Jakarta yang pernah membuat karya-karya yang jauuuuuuuuuuh lebih baik dari buatan Amerika Serikat ini. Mendapatkan Paranormal Activity menjadi salah satu film yang cukup ramai dibicarakan di tanah air saja sudah membuat dada saya berdegup, betapa tak adilnya para kritisi film pada film lokal.
Bagi saya, Keramat (2009) milik Monty Tiwa jauh lebih menarik.....bahkan Air Terjun Pengantin nya Rizal Mantovani yang terus saja disebut sebagai film penuh paha dan dada menjadi karya yang bagi saya jauh lebih bertanggung jawab daripada cerita paranormal yang aktivitasnya sama sekali tidak jelas selain tidur, berdebat dan bergumam. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan ketidak baruan ide eksekusi film ini. Bahkan saya tak peduli bahwa Blair Witch Project (1999) karya Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez, Rec (2007) karya Jaume Balaguero dan Paco Plaza atau bahkan Cloverfield (2008) karya Matt Reeves pernah melakukan hal yang kurang lebih sama. Namun jika 3 contoh tersebut (saya malah tidak terlalu suka pada Cloverfield) memberi isi cerita yang bergerak dari satu bagian ke bagian lainnya, maka Paranormal Activity sama sekali tidak bergerak kemana-mana, kecuali tentu saja adegan terakhirnya yang.......jika Anda penonton film dengan jam terbang diatas 10.000 jam, adegan ini sudah bisa Anda tebak dengan baik.
Film yang dibesut dengan teknik digital ini sendiri sebenarnya adalah produksi tahun 2007 yang kemudian baru bisa dijual ke publik (dan laku keras di Amerika Serikat....di Inggris gak laku dong) 2 tahun kemudian ini mungkin adalah sebuah fenomena ketakutan bagi orang Amerika yang memang tidak kenal Jenglot, Tuyul, Babi Ngepet, Mak Lampir dan lain sebagainya. Namun jika film seperti ini bisa masuk bioskop Indonesia dan terus dibicarakan, saya menuntut para distributor untuk mengambil hak film Bandung Lautan Asmara (2001) karena inilah film lokal yang mampu membuat para pedagang dvd bajakan asing di glodok berguncang hebat!!!
Tag: film kancut
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
kucing_usil: Good Take
-
kucingsapi™: Informatif
-
warm: Box Office
-
oksbangs: Good Take
-
kniwe: Informatif
-
Seph Bimo: Good Take

Komentar:
ada gunanya kita punya macam2 dedemit itu
Justru karena ndak tampak wujud si hantu jadi bisa dikembalikan ke imajinasi penonton, bentuk hantu seperti apa yang mereka inginkan
saya sarankan anda sering2 nonton film horror Indonesia dan nonton film2 buatan anak2 indie sma di daerah....kalo sudah, yuk mari kasi komentar lbh obyektif pada film yg ditonton sampe 2 kali ini.
andai judulnya Aktivitas Paranormal dan sutradaranya Johan Wahid, saya yakin kita gak akan peduli sama film ini....percaya deh
tapi emang sih heran deh publikasinya kok bener2 terlalu hebih ya? sampe mau nonton itu bagai uji nyali, padahal film ini gak jauh beda sama Dunia Lain dan acara hantu yang di tivi.
Jujur saya gak nonton, dan baca tulisanmu itu makin saya bersyukur gak nonton
kucingsapi™:
lah emang kamu ndak doyan cerita hantu-hantuan kan
saya dukung Bandung Lautan Asmara masuk ke bioskop Indonesia..
ekspektasi saya ketinggian pas nonton film ini
ga ada apa2nya di banding film2 hantu negeri ini
1. Acara Dunia Lain dan Uka - Uka pada dasarnya hampir sama
2. mempunyai pengalaman yang mirip - mirip
menimbang
1. tidak perlu jauh - jauh utk mengalami hal - hal diatas
memutuskan
1. berusaha menahan kantuk saat di bioskop
2. tidak mereview film ini daripada reviewnya cuma bertuliskan "liat aja acara Dunia Lain"
Silahkan login untuk memberikan pendapat