3 doa 3 cinta 12

Senin, 21 Des '09 17:54

3 DOA 3 CINTA
Sutradara : Nurman Hakim
Pemain : Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Yoga Bagus
Tahun : 2008
Rating : 4/5


3 Doa 3 Cinta mengisahkan mengenai pencarian makna hidup dan cita-cita tiga pemuda yang akan menyelesaikan pendidikan mereka di sebuah pondok pesantren. Mereka adalah Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama), dan Syahid (Yoga Bagus). Ketiganya memiliki cita-cita dan jalan hidup yang berbeda. Huda ingin bertemu dengan ibu nya yang menitipkannya di pesantren ketika ia berumur sebelas tahun, dan sekarang tinggal di Jakarta. Rian yang ingin menjadi seorang film maker setelah bertemu dengan pak Toha yang sehari-hari menjalankan projektor layar tancap di pasar malam. Dan Syahid yang paling alim diantara ketiganya yang ingin mati syahid, sesuai dengan namanya. Ketiga pemuda ini mencoba untuk mencari jalan hidupnya masing-masing dengan menonjolkan karakter diri mereka yang sama sekali berbeda, yang akhirnya menuntun mereka pada kejadian-kejadian yang akan memberi jawaban pada cita-cita dan keinginan hati mereka sendiri.

Film yang aslinya berjudul Pesantren (bahkan untuk versi internasionalnya film ini diberi judul Pesantren: 3 Wishes 3 Loves), sama sekali tidak berkutat pada penceritaan yang ambigu mengenai kehidupan di pondok pesantren. Bahkan film ini sebenarnya menceritakan mengenai Kehidupan secara umum yang di dalamnya terdapat tiga orang manusia berbeda karakter yang ingin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hati nurani mereka. Pengambilan setting pesantren merupakan sebuah pilihan yang sangat tepat dan luar biasa yang memberikan warna yang sangat indah kepada film ini.

Diiringi dengan ilustrasi musik yang sangat indah, alur cerita film mengalir tanpa beban dengan sangat memuaskan. Ketiga karakter utama diberikan alur yang berbeda tanpa saling tumpang tindih antara karakter yang satu dengan karakter lainnya. Masing-masing karakter diberikan momen-momen yang menjelaskan latar belakang mereka dalam mengambil keputusan dalam kehidupannya. Bahkan yang sangat memuaskan adalah penulis cerita memberikan penyelesaian yang sangat bijak kepada masing-masing karakter.

Penulis juga tak lupa memasukkan isu-isu typical yang sering kita dengar terjadi di pondok pesantren, seperti isu poligami, isu homosexualitas, dan yang paling banyak porsinya diceritakan dalam film ini adalah isu terorisme. Namun hebatnya, isu-isu tersebut diangkat tanpa harus menggurui dan menghakimi siapapun yang terlibat di dalamnya. Ketiga isu tersebut diceritakan secara gamblang, namun tidak menganggu alur kisah ketiga karakter utama, dan tidak menjadikan karakter-karakter utama terganggu tujuan hidupnya karena ada isu-isu tersebut.

Kehadiran tokoh Dona Satelit, diperankan Dian SastroWardoyo, yang genit dan menggoda, yang paling banyak berinteraksi dengan karakter Huda, tidak serta merta menjadikan Huda sebagai seorang pendosa. Huda dan kedua temannya yang belajar di pesantren, digambarkan hanya sebagai manusia-manusia biasa yang mencari makna hidup yang bergejolak di hati masing-masing.

Walaupun begitu, film ini tidak lepas dari beberapa kekurangan kecil, seperti beberapa bagian dialog yang masih terkesan sinetron banget (terutama dialog di awal film mengenai masalah ujian, kemudian dialog antara Huda dan teman ibunya, dsb). Selain itu juga kisah untuk tokoh Huda dan Rian yang masih terasa superficial (huda yang ingin bertemu dengan ibunya yang meninggalkannya sejak umur 11 tahun - seperti cerita di novel-novel harlequin, rian yang merasa sangat kecewa dengan ibunya yang menikah lagi padahal baru setahun ayahnya meninggal dan kemudian menangis tersedu-sedu sambil menuang air bak ke kepalanya - padahal kan harusnya anak pesantren sangat mengerti dengan masalah iddah pada wanita). Untungnya, kekurangan-kekurangan itu tertutupi dengan kelebihan film ini di sana sini, hingga sama sekali tidak terasa bekasnya.

Performa ketiga pemain utama sangat baik. Kedua yoga bermain dengan apik, dengan yoga pratama sebagai scene stealer dan yoga bagus yang bermain sangat natural. Nicholas Saputra membuktikkan dirinya sebagai aktor kelas satu yang mampu memainkan peran apapun dengan sangat baik. Dian Sastro yang hanya mendapat porsi sedikit sebagai peran pendukung memberikan keunikan sendiri pada alur cerita.

Overall, film ini layak untuk mendapatkan apresiasi yang tidak main-main. Kemunculan film ini di tengah-tengah isu yang sangat hangat belakangan ini yang menyudutkan umat Islam, tidak serta merta membuat film ini harus menceritakan isu tersebut dengan cara yang berat dan menyedihkan. Namun alih-alih, film ini bercerita dengan gaya komedi yang lepas namun masih memberikan makna yang mendalam mengenai manusia-manusia dengan segala masalah dan pilihan hidup yang diwakilkan dengan ketiga tokoh utamanya. Itulah sebenarnya topik utama yang diangkat oleh penulis dan sutradara film, yaitu manusia dengan jalan hidupnya.

copyright by Mr. Venus Spice

 


Tag: 3 doa 3 cinta, nicholas saputra, dian satrowardoyo, nurman hakim

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
ahhh.. saya terlewat film ini di bioskop...
tampaknya cukup worthy utk dibeli DVDnya ya?
udah keluar belum sih?
sabai 0 0
Nicolas actingnya oke ga?
mudah2an lebih baik dari di film2nya yg lain... *sigh*
venus spice 0 0
dvd nya udah keluar, aku juga nontonnya di dvd,,,
akting nico sih oke, tapi masih tetep yg di gie yg terbaik,
sabai 0 0
venus spice: hah???
you've gotta be kidding!!!
di Gie itu yg terbaik? jadi aktingnya di film ini lebih jelek dari Gie?!? waduh, ngebayanginnya aja nggak tega...
a total turn off.
venus spice 0 0
sabai

hah??? di gie jelek ya????
wah gak tahu kalo menurut orang, menurutku si akting nico di gie fine2 aja, walau untuk kelas internasional udah jelas kalah, tapi untuk kelas lokal si oke2 aja,,,
sabai 0 0
venus spice: wakakakaka.... mas nico mah aktingnya datar2 aja, incl di Gie...
kniwe 0 0
Setuju, sebagai mantan orang yg tinggal di perkampungan, saya merasakan kedekatan latar film ini dengan masa lalu saya... Akting juga keren, terutama Nico yang bisa berlogat jawa kental gitu...
oksbangs 0 0
Bagusan Nico di sini drpd di Gie yg normatif bambang. Dian Sastro di sini super... Super lebay mksdnya.
kucingsapi™ 0 0
saya nonton film ini tanggal 25 Desember tahun 2008 hahah di bioskop tentunya : D dan film ini gak terlalu laris memang... karena tiba2 saja film ini dah turun dari bioskop.

saya dulu pernah bikin review film ini di blog saya.. hehehe
http://vidyaipied…3-cinta.html
venus spice 0 0
kucingsapi™: i hope no one's gonna mad for me for liking this movie and giving good review to it.
sabai 0 0
oksbangs: : )): )): )) Super lebay...
venus spice: tenaaaang... paling ntar situ dijerat UU ITE : D
jim96 0 0
wah kok gw spesialis ngomentari pelm lawas yak.

sebagai penggemar pelm endonesa sejati, gw mengoleksi dvdnya (ups vcd aja cukup ... lebih hemat ceban).

sejujurnya pengen tau ada perkembangan baru apa dalam akting nicholas combo dian sastro yang pernah menghebohkan jagad nusantara.

ternyata mendapat suguhan film yang manusiawi sebagaimana ditulis di atas.

keberhasilan sutradara:
* scoring yg baik
* cerita yg baik pula (ini sangat penting), natural dan manusiawi
* mengangkat isu sensitif yg dikuasai dengan baik oleh sutradara dalam hal terorisme dan pendidikan tradisional agama
* suasana pesantren yg alami (atau mungkin memang tidak banyak merombak set sebagaimana perempuan berkalung sorban yg berlokasi sama)

bumbu 'pertemanan' antara nicholas & dian sastro menjadi tidak terlalu penting. begitu pula dengan pencarian ibu. karena yang ditunggu adalah hal2 kecil semacam:

* perilaku seks di kalangan pesantren (bukan cuman santrinya, tapi juga kyainya : p )
* 'kebandelan' santri (kabur nonton pasar malem, ketiduran di saat solat)

tampaknya latar belakang mas nurman hakim sebagai santri memang sangat membantu penggambaran yang natural dari sebuah pesantren. bahkan jauh melebihi film sukses ayat2 cinta, atau kcb (perempuan berkalung sorban dianggap sebagai film pemberontakan atas pesantren ... padahal yang diprotes adalah budaya yang cuma hasil olah daya manusia ... ups ... that's another review).

yg lebih penting ... ditunggu karya berikutnya dari mas nurman hakim. semoga lebih baik dan dapat sponsor lebih mantap.

atau jangan2 film ini menjadi baik karena dukungan sponsor yang tepat (alias bukan pemodal dalam negeri yang berotak dengkul).

Silahkan login untuk memberikan pendapat