Bob Parr 2
Kamis, 17 Des '09 22:49
Bagi saya, salah satu kisah ihwal pahlawan yang paling kocak sekaligus tragis, main-main tapi juga filosofis, adalah yang termaktub dalam Film The Incredibles (2004). Ketika pertama kali menontonnya beberapa tahun lampau, saya menyukai film animasi garapan Brad Brid ini karena, dalam bagian tertentu, film ini meretakkan gambaran yang lazim mengenai pahlawan.
Seperti yang pernah kita tonton, The Incredibles berfokus pada kisah sekeluarga superhero yang harus menjalani kehidupan normal-itu artinya menanggalkan kekuatan superhero dan aksi-aksi edan jalanan mereka-di sebuah daerah pinggiran kota di Amerika Serikat dengan uang pas-pasan. Semua itu terjadi karena lima belas tahun sebelumnya, sejumlah besar anggota masyarakat telah menuntut para superhero itu karena aksi-aksi mereka dianggap merugikan masyarakat.
Mr. Incredible, tokoh utama film itu, tak lepas dari tuntutan hukum ketika, pada malam pernikahannya dengan Elastic Girl, ia malah memburu seorang penjahat bernama Bomb Voyage. Malam itu Bomb Voyage lolos tapi pertempuran keduanya mengakibatkan banyak kerusakan umum. Seorang warga yang merasa dirugikan menuntut ganti rugi pada Mr. Incredible. Banyak warga lain yang juga menuntut superhero lainnya- The Incredibles mengisahkan AS punya banyak sekali superhero pada masa itu-sehingga akhirnya terciptalah sebuah tuntutan massal yang memandang superhero lebih merusak ketimbang menyelamatkan.
Pemerintah menalangi semua kerugian yang diakibatkan aksi para superhero itu dan mereka diberi semacam amnesti. Tapi, kompensasinya, para superhero itu mesti menjalani sebuah program yang akan mengubah secara drastis kehidupan mereka. Dipaksa meninggalkan kekuatan super mereka, Mr. Incredible, Elastic Girl, dan puluhan superhero lainnya diberi sebuah kehidupan baru: mereka mendapat identitas baru dan pekerjaan di sebuah "dunia normal"-dunia tanpa superhero.
Dulu, waktu pertama kali menonton The Incredibles, saya menganggap tuntutan hukum untuk mengembalikan superhero ke kehidupan normal merupakan ide cerita yang bagus tapi terkesan tak rasional. Bagaimana mungkin masyarakat membenci para pahlawan mereka itu? Kini, saya tahu bahwa dalam logika hukum di AS, ihwal macam itu ternyata dimungkinkan.
Di AS, tidak ada hukum yang mengharuskan seorang individu memberikan pertolongan ke orang lain-tak peduli betapa parah kondisinya. Jika Anda melihat seorang perenang yang tenggelam di sungai dan Anda diam saja sambil ongkang-ongkang kaki, Anda sama sekali tak bersalah secara hukum. Justru ketika Anda berusaha menolong seorang yang kehabisan nafas dengan melakukan CPR tapi korban yang Anda tolong itu kemudian menderita patah tulang rusuk karena CPR Anda, Anda bisa dihukum berat.
Secara umum, hukum di AS bisa dikatakan memberikan hambatan untuk menyelamatkan seseorang. Hukum semacam itulah yang bisa digunakan untuk menuntut para superhero dalam The Incredibles. Tidak ada yang mengharuskan para superhero itu menyelamatkan orang lain. Itu tugas polisi bukan? Justru ketika, dalam usaha penyelamatan seseorang, superhero itu mengakibatkan kerugian ke orang yang hendak mereka tolong-tak peduli betapa kecilnya kerugian itu dibandingkan keselamatan nyawa mereka-sang superhero bisa dituntut. Ini memang aneh secara moral, tapi secara legal di AS diterima.
Begitulah jalan pikirnya sehingga akhirnya Mr. Incredible berubah menjadi seorang pegawai perusahaan asuransi yang murung bernama Bob Parr. Istrinya kini bernama Hellen, ibu rumah tangga yang cerewet dan kadang-kadang suka marah. Dalam kehidupan normalnya itu, Bob sama sekali tidak betah karena selain harus menanggalkan semua kekuatannya-hanya jika Anda superhero, Anda bisa merasakan kepedihan itu!-ia harus menghadapi bos dengan sifat buruk yang hendak terus-terusan menipu pelanggan. Bob terikat dengan moralitas pahlawan: ia menolong semua pelanggannya mendapatkan ganti rugi atas kerusakan barang yang telah mereka asuransikan-tapi bosnya justru menginginkan sebaliknya.
Saya sangat menikmati kontras Bob dengan dirinya dulu ketika masih Mr. Incredible. Saya suka ketika Bob yang kini gembrot mengenang masa lalunya-saat ia masih bertubuh atletis, menyelamatkan para korban, dikagumi mati-matian-dan kemudian sadar bahwa semuanya telah berubah. Tidak ada masa lalu yang bisa kembali seharusnya. Tapi The Incredibles adalah film animasi superhero sehingga mau tak mau, kita disuguhi kembali kisah kepahlawanan klasik. Bob sekeluarga kembali menjadi superhero, menyelamatkan kota dan orang-orang, dikagumi, dan setelah semua itu, mungkin manusia biasa dan manusia super bisa hidup berdampingan secara bersama.
Separuh film itu menuju ending membuat saya bosan karena mitos pahlawan yang sebelumnya diretakkan kini kembali direkattkan. Jujur saja, saya jauh lebih suka membayangkan Bob tetap sebagai Bob gembrot pemurung yang bosan pada hidupnya tapi terus ingin melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Bagi saya, kebaikan Bob sebagai pegawai perusahaan asuransi-dengan membantu para klien mereka mendapatkan ganti rugi secara jujur-juga merupakan sebuah sifat kepahlawan. Bob yang itu, bukan hanya Mr. Incredible, adalah seorang pahlawan pula.
Saya jauh lebih menyukai Bob Parr si pegawai asuransi ketimbang pahlawan super berambut klimis dan memakai kostum merah menyala bernama Mr. Incredible karena Bob lebih manusiawi dan oleh karenanya lebih dekat dengan kita. Terlebih lagi, dalam dunia yang sesungguhnya, kita lebih membutuhkan seorang Bob ketimbang selusin Mr. Incredible. Kita tidak membutuhkan pahlawan super yang sempurna dan tanpa cela, kita hanya butuh orang baik yang mau berkorban demi sesama.
Saya tidak ingin berurusan dengan para "pahlawan nasional" yang telah diseleksi oleh negara itu. Kita sudah cukup lama berurusan dengan mereka dan kadang-kadang kita tak mengerti apa guna dari semua itu. Tentu saja, pembentukan nasionalisme-salah satunya dengan menetapkan siapa saja "pahlawan nasional" itu-memang diperlukan dalam sebuah negara bangsa yang terdiri dari banyak sekali perbedaan. Tapi proses pembentukan itu telah menyedot sebagian besar perhatian kita sehingga apa yang kemudian disebut sebagai "pahlawan" itu hanya bermakna sesuatu yang "besar" dan "nasional".
Saya kuatir semua itu membuat kita memberi harga yang terlalu kecil bagi tiap kebaikan remeh di sekitar kita, menjadikan kita seorang individu yang terobsesi dengan sifat kepahlawanan dari jenisnya yang paling besar, megah, dan puncak. Saya kuatir kita terlalu mengagungkan Mr. Incredible yang kekuatannya terbuki tak tertandingi dan Elastic Girl yang kelenturan tubuhnya sungguh luar biasa, sembari mengesampingkan fakta bahwa Bob dan Hellen adalah orang baik. Padahal, sekali lagi, justru Bob dan Hellen yang tiap hari kita temui-merekalah yang membantu hidup kita, tentu saja hanya secara sedikit demi sedikit, menjadi lebih baik.
Tag: animasi, the incredibles, pahlawan
Terkait:
-
Ponyo: Sebuah Tontonan Menyenangkan
Sabtu, 17 Mar '12 13:53 -
Review : Tekken - Blood Vengeance (2011)
Jumat, 23 Des '11 19:57 -
TATSUMI : BIOGRAFI DALAM ANIMASI
Kamis, 13 Okt '11 21:38
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
Si Pisau Terbang: Informatif
-
oksbangs: Good Take

Komentar:
padahal, harusnya bisa dikulik cerita agar Bob dan Helen tetap menyelamatkan kota tanpa menjadi super hero ya....
aksi anak mereka yg masih kecil, Dash, juga seru tuh!
Silahkan login untuk memberikan pendapat