Bermain dengan Film Studies: Asumsi soal Miyabi dan "Curhat Massal" lewat Pornografi 9

Kamis, 19 Nov '09 04:53

 

Baiklah, Miyabi sudah lama batal datang ke Indonesia. Saya laik diklasifikasikan dalam deretan orang - orang yang kecewa dan meratap di pojokan kamar barangkali, saat mendengar kabar tersebut beberapa waktu lalu. Harapan yang sempat melambung untuk menyaksikan idola pujaan hati hadir secara nyata di tanah air, akhirnya kandas. Dalam beberapa hal, jika memungkinkan, saya sebetulnya ingin membunuh Jero Wacik.

Ehm, cukup kali ya curhatnya. Mari bicara sesuatu hal yang sedikit berbeda, tetapi masih bertolak dari titik pancang yang sama. Yaitu diskurus pornografi. Namun sebelumnya, saya ingatkan, Miyabi datang ke Indonesia tidak dalam kapasitas untuk bermain dalam film "panas" lho! (wah, jadul kali ya istilah ini) Karena itulah, tulisan ini tidak berusaha membahas rencana pembuatan film besutan Raditya Dika tempo hari itu (dan sekali lagi, saya kecewa, ukh, kecewa sekali atas batalnya proyek monumental itu, ehm....kayaknya melenceng lagi ya? Duh maaf, saya mendapatkan banyak ilham sekaligus "distraction" teramat sangat saat menulis kali ini ^_^).

Oke, kita harus serius mulai sekarang. Ada beberapa hal yang tidak pernah basi ketika memandang euforia soal Miyabi saat itu.

Saya berangkat dengan sedikit memelintir konsepsi filsuf Perancis botak kesayangan saya, Michel Foucault, bahwa adanya penolakan maupun dukungan untuk kedatangan Miyabi merepresentasikan sebuah ide besar yang melekat secara atributif pada sosok Miyabi. Karena Miyabi adalah representasi untuk merujuk pada wacana yang lebih besar, yaitu wacana pornografi, dan barang tentu konsepsi itu merupakan turunan dari wacana tentang seksualitas.

Seperti yang kita ketahui bersama, Foucault dengan tegas menyatakan bahwa seksualitas adalah produk relasi kuasa melalui hubungan kompleks dan interaksi praktik disiplin-diskursif, yang membentang dari konfesi, pedagogisasi seksualitas anak, hingga medikalisasi dan psikiatrisasi seksualitas.[1] Pun dalam buku fenomenalnya "Discipline and Punish" (dan dibicarakan kembali secara lebih detail dalam buku History of Sexuality Vol. 1), filsuf Perancis ini bercerita bahwa diskursus seksual, dikendalikan melalui mekanisme konfesi (ritual pengakuan dosa dalam tradisi gerejawi - red).

Untuk menggambarkan betapa efektifnya konfesi bekerja, Foucault pun bercerita "karena itulah kita telah menjadi masyarakat berkonfesi luar biasa. Konfesi telah menyebar begitu jauh dan luas. ia bermain dalam sistem hukum, kedokteran, pendidikan, hubungan keluarga, hubungan cinta, kehidupan sehari - hari, dalam sebagian besar upacara, kejahatan, dosa, pemikiran dan nafsu. Dari masalah sampai jenis penyakit semuanya dikonfesikan." (1988:59).

Mahadaya konfesi! Tapi bukan hanya itu tentunya yang ingin saya sasar dalam tulisan ini. Jika kalangan "artis" hingga FPI mencurahkan tenaganya untuk turut berpartisipasi dalam wacana "Miyabisme", saya memandang bahwa hal itu juga menandakan sebuah kesadaran kolektif publik akan keberadaan "alien" dalam hiruk pikuk sinematografi yang bernama pornografi. Berangkat dari asumsi tersebut, mari kita berbincang - bincang soal pornografi terlebih dahulu.

Mengapa pornografi menjadi "porno"?

Sejauh saya ketahui, di kalangan intelektual film pun, pornografi merupakan anak haram jadah yang jarang dilirik. Allan Bloom pernah menyebutkan, teruntuk kalangan kritikus sosial konservatif, mempelajari pornografi sebagaimana dilakukan peminat cultural studies, adalah upaya - upaya "lowering standard for social sciences" tanpa arti, dan bisa berimplikasi pada bertumbuhnya ragam patologi sosial, karena kita tidak akan menemukan sebuah wujud solutif untuk mengatasinya.[2] Tapi ternyata cercaan tersebut tidak pernah menyurutkan minat beragam akademisi untuk tetap menyuntuki pornografi, alih - alih menjauhinya dan tetap mengalienasinya sebagai bopeng manusia modern yang tak pantas diperlihatkan.

Dari beragam pihak, bisa jadi kalangan Feminis adalah yang paling tangguh mendedah soal pornografi hingga mengerucut pada upaya melahirkan tafsir kolosal. Diantaranya, yang mungkin sudah familiar, adalah pornografi sebagai wujud "objektifikasi perempuan oleh kultur patriarki". Berarti, perempuan diturunkan kadar kemanusiannya hanya untuk sekadar menjadi obyek bagi pemuasan hasrat seksual kultur yang lebih dominan yaitu kultur lelaki atau kultur patriarki. Pun memang, mayoritas film porno memuat dominasi simbolik lelaki atas perempuan.[3] Lebih jauh, feminisme mampu mengaitkan adanya selubung relasi gender yang timpang, serta kekuasaan patriarki serta represi terhadap perempuan yang menaungi diskursus pornografi.

Tapi penjelasan dari kalangan feminis belum memuaskan tentunya, untuk menjawab, kepada siapakah film porno sebenarnya dibuat? Apakah memang khusus untuk laki - laki? Atau bisa pula dimanfaatkan (baca: dinikmati) oleh perempuan. Salah satu pendekatan kritik film dengan kacamata psikoanalitik oleh Andrea Dworkin, menghasilkan satu jawaban bahwa pornografi bukan realisasi fantasi, namun lebih menyerupai panggilan untuk bertindak.[4]

Pada perkembangannya, teori - teori anti-porn seperti dicontohkan Dworkin mendapatkan tanggapan balik, yang secara substantif berusaha tidak menyederhanakan masalah pornografi sekadar perwujudan kejayaan lelaki atas perempuan saja. Namun, yang ingin didapatkan adalah tinjauan atas pernyataan mendasar, mengapa film porno dianggap "porno".

Satu upaya semacam itu dalam sejarah film studies ditempuh oleh Laura Kipnis. Menurut Kipnis, sensasi menyaksikan film porno lebih merupakan wahana identifikasi fungsi sebuah karakter, bukan sifat "gender" karakter itu sendiri. Meminjam kajian Laura Clover pada film "seksploitasi" semacam I Spit on Your Grave (1977), muncul kesimpulan bahwa proses identikasi karakter bermuara pada usaha mengidentifikasi sifat - sifat naluriah kita tanpa mengacu pada preferensi seksual yang kita miliki.

Bagi Kipnis, pengalaman bagi lelaki (emosi menguasai, ketakutan, kesakitan, dan konflik) yang dialami penonton laki - laki pun akan dialami perempuan. Pada akhirnya ihwal yang mengemuka soal film porno adalah sifat alamiahnya untuk meresonansi wacana soal "seks" kedalam berbagai dimensi, tidak hanya kesenangan, namun juga memoar kesedihan, aspirasi utopis, optimisme hidup, vitalitas jiwa, bahkan kerinduan akan cinta yang sejati.[5]

Terlepas dari perbedaan pendapat itu, absah kiranya untuk menyebut bahwa pornografi memang memiliki kaitan erat dengan bagaimana manusia mengelola hasrat seksualnya. Dengan demikian saya memberanikan diri untuk menyimpulkan sementara, bahwa ada relasi antara "kepornoan" dengan upaya kita untuk mendisiplinkan diri, khususnya menyangkut rangsang - rangsang seksualitas. Ia adalah bentuk alternatif konfesi massal. Wahana "pengakuan dosa" yang kadang cukup dilakukan dengan membicarakannya, terlepas anda mengutuknya atau malah memujanya.

Kembali soal Miyabi dan Refleksi Kondisi Sosial Indonesia

Masyarakat Indonesia tentu akrab hingga masa - masa ini pada beragam aparat pengelola preferensi seksual semacam lembaga - lembaga keagamaan, hingga aparat ideologis perpanjangan Negara seperti kepolisian. Oh, iya, jangan lupa ya, Departemen Pariwisata juga! (Wacik oh Wacik....teganya dirimu, huuuu....). Mahzab pemikiran masyarakat kita soal pornografi, baik diamini oleh kalangan akademisi ataupun tidak, mungkin lebih condong pada tesis - tesis dari kalangan anti-porn.

Masyarakat Indonesia tentu mendudukan pornografi tidak pada posisi yang setara dengan karya - karya sinematografi lainnya. Pornografi bagi saya sulit untuk dikategorisasikan di negara ini sebagai salah satu genre film biasa - seperti halnya komedi, horor, atau drama. Pornografi saya jamin tetap dipandang sebagai "kasus spesial", dus ia lebih sering dimaknai sebagai produk sosial yang berpotensi mempengaruhi tingkah laku. Maka pornografi akan dianggap sebagai wujud propaganda amoral. Bagi masyarakat kita, pornografi merupakan ajakan mempraktikan "sesuatu", dalam hal ini aktivitas seksual yang pastinya melenceng dari nilai ideal prokreasi.[6]

Akan tetapi, jika kita menilik perkembangan produksi film - film porno ataupun yang menjurus kesana dalam konteks Indonesia, banyak aspek yang menarik ternyata muncul. Sejak booming film panas era 80-an[7] hingga maraknya video porno amatir ber"genre" 3gp, pandangan yang memosisikan pornografi sebagai sekadar himbauan sesat ternyata kurang memadai lagi. Apa yang melatari ribuan anak muda mendokumentasikan aktivitas seksualnya, dan kemudian menyebarluaskannya secara sadar akhir - akhir ini? Cermin merosotnya nilai - nilai moral di masyarakat kita kah? Atau bentuk hegemoni budaya "barat" semata, seperti yang kerap dituduhkan?

Kipnis memberikan penjelasan yang menarik berkaitan dengan hal tersebut, dan saya pikir cukup relevan untuk ditautkan. Ia menggambarkan, dalam setiap karya pornografis, ada aspek yang pasti muncul, yaitu bukti bahwa aktivitas yang direpresentasikan itu "nyata". Sehingga, sehebat apapun plot masuk kedalam sebuah karya pornografis misalnya, rekaman aktivitas seksual itu sendiri "real". Kita pun terpaksa mengidentifikasikannya sebagai aspek yang sama dengan apa yang kita alami sebagai individu. Pada prinsipnya, Kipnis menambahkan, pornografi merupakan upaya melanggar dan mendokumentasikan pelanggaran atas keteraturan sosial tersebut, untuk meneguhkan eksistensi kita sebagai obyek sosial.[8]

Saya beranggapan bahwa fenomena "3gp" erat berkaitan dengan hasrat sosial yang diam - diam menyeruak, untuk mewujudkan jalan bagi sebagian unsur masyarakat kita dalam melakukan konfesi sebagimana terilhami dari konsepsi Foucault diatas. Himbauan "Jangan Bugil di Depan Kamera" yang sempat marak atau lagu "Kenakalan Remaja di Era Informatika" dari grup rock Efek Rumah Kaca, justru menguatkan asumsi saya.

Bahwa, ada kepanikan yang melandasi gerakan counter konfesi massal melalui medium film porno baik profesional maupun amatir tersebut. Beberapa bagian masyarakat jelas tidak siap dengan kenyataan bahwa kini aktivitas seksual makin dianggap sebagai fakta sosial biasa, dan kita lebih ringan mengakuinya. Tapi jangan dilupakan konfesi bukan berarti kebebasan yang bersifat Aphrodisia[9]. Wacana seksual makin bebas berkelindan, namun bersamaan dengan itu kita pun makin gencar melakukan disiplin diri atas aspek sosial bernama seksualitas. Karena upaya konfesi hanyalah alat untuk menyeimbangkan diskursus seksualitas dalam ranah praktik dan wacana.

Karena itulah, mungkin dewasa ini kita sebenarnya butuh sosok - sosok macam Miyabi agar mudah masuk dalam wacana seksualitas yang kadung kita batasi keberadaannya. Jadi mau FPI ataupun Presiden yang mengomentari Miyabi, aksi tersebut pasti dilatarbelakangi dahulu pada referensi mereka soal pornografi dan seksualitas. Kita mengamini wacana seksualitas yang dikandung karya pornografis terlebih dahulu, baru kemudian merepresinya. Entah sadar maupun tidak sadar.

Kalau boleh saya berasumsi kemudian, bisakah disimpulkan bahwa fenomena 3gp merupakan tanda bahwa masyarakat kita sebenarnya mulai rileks dalam menanggapi hedonitas - termasuk soal aktivitas seksual -  dan sebagai penyeimbang agar secara sosial mereka bisa tetap normal dan pas dengan tatanan sosial "lama" yang masih dominan, mereka kini membutuhkan ruang pengakuan "tersembunyi" dalam bentuk dokumentasi?

Apa yang saya bicarakan masih berada dalam zona bernama asumsi. Perlu penelitian yang mendalam, dan mungkin, lebih ketat secara metodologis, supaya apa yang saya bicarakan lebih memiliki bobot ilmiah (serta jelas juntrungannya). Tapi setidaknya, asumsi saya "agak" mendapat dukungan, sekali lagi dari Kipnis, dalam esei singkatnya yang bertajuk "Pornography". Melalui kutipan pernyataan dari Kipnis yang lucu namun menohok ini, saya pun ingin memungkasi tulisan saya.

"Unlikely as it may seem, I'd suggest that pornography contains a vast amount of social knowledge, which is another reason it demands study. Now go do your homework!"[10]

Tuh, sudah dengar kata - kata Bu Kipnis kan. Segera lihat bokep, dan pelajarilah ia sebagai artefak yang merepresentasikan kebudayaan masyarakat kita. Hehehehe

 

Tabik!

 

 

 

 


[1] Untuk penjelasan Foucault yang lebih rinci mengenai pelaksanaan strategi pembentukan diskursus seksualitas pada masyarakat dalam unit - unit tersebut, lihat Moh. Yasir Alimi. Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial. (Yogyakarta: Lkis, 2004), hlm. 43 - 45.

[2] Lihat Allan Bloom (1987) The Closing of The American Mind. New York: Simon & Schuster. Hal 67

[3] Terlepas dengan makin maraknya film porno gay, masokis, ataupun hardcore yang saat ini sering kali lintas gender, saya pikir dominasi laki - laki dalam dunia per-pornografi-an masih laik untuk disematkan. Bukti nyatanya adalah keberadaan "idola - idola seks" yang masih banyak didominasi aktris porno perempuan.

[4] Pandangan, ini meneguhkan asumsi bahwa pornografi merupakan sebuah abdi patriarki yang taat, dengan menghimbau lelaki agar melakukan hal serupa (merendahkan perempuan, melakukan dominasi seksual, dan menirukan adegan - adegan serupa sebagai legitimasi kelelakian mereka). Untuk lebih jelasnya, lihat Andrea Dworkin (1981) Pornography: Men Possesing Women. (New York: Perigee). Hal 33 - 36.

[5] Lihat Laura Kipnis (1993). Ecstasy Unlimited: On Sex, Capital, Gender, and Aesthetics. Minneapolis: Minnesota University press. Hal 154 - 155. Bandingkan dengan kajian Clover Carol mengenai film horror yang pada akhirnya turut menyangkut pada sifat - sifat kerja film porno yang serupa dalam upaya identifikasi lintas gender. Lebih jelasnya lihat Carol Clover (1992) Men, Women, and Chain Saws: Gender in the Modern Horror Film. Princeton: Princeton University Press. Hal. 139

[6] Tidak hanya masyarakat Indonesia tentunya, sebagaimana dikemukakan Foucault, cara memandang aktivitas seksual sebagai sarana prokreasi merupakan tipikal konsep Scientia Sexualis banyak kebudayaan yang berorientasi pada efisiensi, maksimalisasi kekuatan, ekonomi tubuh, dan heteroseksualitas. Konsep itu jelas berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan Aphrodisia atau orientasi seksualitas sebagai kesenangan sebagaimana terjadi pada diskursus seksualitas Yunani dan Romawi kuno. Hal itu menandakan adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap wacana seksualitas dari waktu ke waktu. Lihat penjelasan lebih lanjut dari keterangan di Moh. Yasir Alimi. Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial. (Yogyakarta: Lkis, 2004), hlm 44 - 46.

[7] Ada satu topik yang menyeruak, namun lebih baik ditulis dalam lain kesempatan soal fenomena film "esek - esek" 80-an tersebut. Diantaranya modifikasi masyarakat Indonesia dalam memroduksi film porno minus "adegan porno eksplisit" ala "ranjang ternoda" agar dapat lebih diterima oleh masyarakat luas, walaupun pada prinsipnya mengandung wacana yang juga bersifat "pornografis".

[8] Lihat Laura Kipnis (1999) Bound and Gagged: Pornography and The Politics of Fantasy. Durham, North Carolina: Duke University Press. Hal 45 - 48.

[9] Lihat lagi penjelasan Foucault diatas.

[10] Lihat Laura Kipnis (2000) Pornography. Bagian dari kompilasi tulisan dalam buku Film Studies: Critical Approaches ed. John Hill and Pamela Church Gibson. Oxford: Oxford University Press. Hal 155

 

 


Tag: pornografi, film studies, Miyabi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kucingsapi™ 0 0
eh busetttt... ini laporan skripsi pindah di mari? : o panjang bener...

baiklah saya baca dulu hehehe ; ))
kucingsapi™ 0 0
woh mantap! : )) budaya itu hasil perwujudan dari akal budi manusia. kalo gak salah itu yang saya pelajari jaman SMA di pelajaran sejarah. jadi sebenarnya setiap jamannya manusia itu pasti menghasilkan kebudayaan. hasilnya macam2 seperti yang kita lihat ini.

eh lah kok saya malah jadi ngomongin budaya tho! : )) : ))

jadi kalo budaya yang kata orang berbau pornografi tersebut muncul lagi, ya karena memang akal dan budi kita sedang gandrung ke arah situ.

mbulet ya? sama saya juga bingung saya ngomong apa hahahaha : )) : ))
sabai 0 0
kucingsapi™: : )) saya jg perlu persiapan mental sebelum baca!
sabai 0 0
"Segera lihat bokep, dan pelajarilah ia sebagai artefak yang merepresentasikan kebudayaan masyarakat kita."

: )) sekarang sih lagi 'in' ya, entah berapa dekade lagi bisa jadi artefak. mungkin suatu saat nanti ketika cloning dan rekayasa genetika menjadi cara yang lebih populer untul berprokreasi?
Viewer 0 0
wiiii...
panjang sekali! : )
Nice post Gambliz.

"Apa yang saya bicarakan masih berada dalam zona bernama asumsi"
Nah, masalahnya adalah asumsi setiap orang itu berbeda. Mungkin tidak semua orang tau tentang masalah "pornografi" seperti Gambliz. : D

Btw, saya juga suka Michael Foucault : )

adis 0 0
kyaaa : )) astagahhh! : )) mas Gambliz pasti anak IKJ yang sedang menyusun skripsi yah..?! : p ini kok pendahuluan skripsinya ditaro disini?! : p
Gambliz 0 0
adis: Hehehe, enggak juga...ini bukan pendahuluan skripsi...yang saya tulis BAB III kok, : p

Oh ya, saya bukan anak IKJ....lha wong saya dari kampus Ndeso malahan.....baidewei, salam kenal ya Adis!!!
adis 0 0
Gambliz: agh, ada kehidupan juga disini.. : p kirain rumah kosong yang ditinggal penghuninya... salam kenal juga mas Gambliz...
ushi_izi 0 0
busyet panjang bener..dan butuh konsentrasi lebih waktu baca ini : D apakah ini akan berubah menjadi bukan hanya asumsi??? : D : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat