Apa Lagi yang Kau Cari Señor ? 7
Senin, 16 Nov '09 22:35
Mengapa Inarritu begitu menarik? Bagi saya sutradara Meksiko ini berupaya untuk konsisten mengusung konsep kisah bersama kompatriotnya Guillermo Ariaga, menggunakan narasi ala Arthur Miller bernuansa "Tragedy of Common Men". Ya, tragedi yang dialami manusia kebanyakan merupakan tindak subversif pada tradisi sastra anglo saxon - bahkan mungkin kebanyakan tradisi sastra dunia lawas - yang tidak jauh berpijak pada fondasi Shakespearian. Potret kegagalan manusia, sebelum pergeseran paradigma penceritaan di abad 19, selalu berkutat pada manusia di strata sosial tinggi (tradisi sastra kita mengenalnya dengan pola cerita istana sentris). Miller, akhirnya menuntaskan apa yang telah Dickens dan Joyce upayakan, mempertegas serta memperluas batas cakrawala tragedi - yang mana layak untuk dilekatkan pada manusia yang umumnya gagal menjadi postscript sejarah, yaitu saya dan bisa jadi anda.
Menyaksikan Inarritu pertama kali di 21 Grams, cukup menyilaukan mata saya karena telaah sineas ini pada dimensi hidup manusia tidaklah umum. Siapa yang mengira alur akan dibangun dengan klimaks dan dituntaskan dengan klimaks pula (Bayangkan "Memento" karya Nolan yang memiliki dua klimaks final). Walaupun dalam beberapa hal, film ini memiliki kelemahan, namun menyaksikan Benicio Del Toro disini akan mencerahkan siapapun yang menyaksikan satu fragmen krisis iman tersebut dengan hati.
Awal kuliah barulah saya berkesempatan menyaksikan mahakaryanya, yang tak dinyana, malah film panjang debut beliau, Ammores Perros (Love's Dog). Betapa kekalahan tiga manusia berbeda, dari strata kelas yang berbeda pula, dibumbui eksotisnya urban slump Mexico City, bisa dikemas sedemikian indah, tanpa harus melankolis (kemiripan akhirnya saya sadari pula di 21 Grams yang berporos pada kisah profesor matematika, residivis, dan ibu rumah tangga dari kelas menengah). Pastinya, jika tebakan saya tidak terlalu meleset, anda yang juga pernah menyaksikan film ini akan memuji kisah El Chivu dalam mencari cintanya pada darah daging yang tak pernah ia temui. Chivu (diperankan dengan luar biasa oleh aktor Meksiko Emilio Echevarría) menjadi pelengkap mozaik yang ditambalkan satu - persatu dengan penuh kesabaran oleh Innaritu. Perros dalam hal ini memiliki karakteristik pula yang serupa semangat sastra metafisik abad 17 - dimana metafor dibangun pada konstruk yang tidak lazim, via pesan sentral film tersebut bahwa Cinta memang anjing! (lebih layak diucapkan dengan mengumpat lepas segala kesumpekan).
Kegemaran sineas ini dengan teknik non-linier, bagi saya dapat dirunut pada model observasinya terhadap Meksiko sebagai tanah kelahirannya yang juga kompleks. Bagi Innaritu, kompleksitas harus diterjemahkan dengan kolase pula. Liniaritas kisah barangkali hanyalah omong kosong, karena makna terdalam tidak dapat kita raih dari satu sudut pandang saja. Sayangnya, di filmnya paling anyar, Babel, tidak semua pihak menyukai gagasannya. Dalam film tersebut gagasan bahasa sebagai jejak penanda Adam jatuh kebumi, dikatai terlalu politis. Padahal, kita mengakui bahwa komunikasi deliberatif ala Habermas - yang mengandaikan kejujuran, niat tulus, dan tanpa prasangka serta kepentingan - dalam skala luas tidak akan terjadi selama perbedaan bahasa masih menjadi salah satu penghalang. Jujur saya tidak melihat ada kelemahan disana, namun setiap orang berhak memiliki pendapat bukan.
Kalaupun ada yang harus saya kritik dari seorang Alejandro Gonzales Innaritu, maka itu pada tema yang ia usung sendiri. Apa lagi yang akan ia gali - walaupun pendapat ini lebih bertumpu pada keinginan subyektif saya saja sebenarnya - dari sebuah observasi tragedi manusia. Pencariannya akan batas tragedi manusia kalah kebanyakan barangkali belum selesai, namun sudikah ia mampir sejenak dan melihat - lihat dimensi serta lanskap lain dari dunia, yang saya yakin akan tetap indah saat dikenai sentuhannya.
Tag: tragedi, Sutradara, Inarritu
Terkait:
-
Kursus Film dengan Tugas Akhir Tayang di Blitzmegaplex
Senin, 26 Sep '11 12:44 -
Biutiful (2010)
Jumat, 4 Feb '11 08:28 -
Babel (2006)
Sabtu, 26 Jun '10 13:43
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
kucingsapi™: Good Take
-
oksbangs: Box Office
-
kniwe: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Box Office
-
Taruma: Informatif

Komentar:
pagi-pagi yang dingin gini mantep banget baca tulisan asik ditemani secangkir teh hangat!
ah, Innaritu memang mengagumkan. membandingkan amores perros, 21 grams dan babel rasanya nggak terlalu adil. buat saya ketiganya punya warna tersendiri. namun memang saya akui, dari ketiga film itu, babel paling kurang 'mind blowing' buat saya. seolah (kesan saya lho ya) innaritu cuma ingin keliling dunia... hehehe..
21 grams saya belum nonton, kalau Babel sudah kok berasa ada warna beda ya dari film2 itu ya? (2 dari 3 sudah saya tonton) ahh Babel menurutku film paling komersil diantara lainnya
baidewei, buat saya, "Babel" memang agak komersil, tapi secara ide...hmm....ada beberapa aspek yang cukup unggul dibanding film2nya yang lain....terutama fragmen Rinko Kikuchi.....perspektif yang baru dalam memahami dunia dari sudut pandang difabel...
soal Amores Perros....hahaha....film itu emg pas buat anak2 yang baru belajar memahami film....terutama bagi saya secara personal waktu itu yg belum biasa menyaksikan film dengan alur "rumit"
saya suka Eternal Sunshine dan Memento, entah itu rumit banget atau enggak tapi buat saya menggemaskan dan bikin pengin nonton lagi
senangnya bisa nemu bicarafilm.com
sementara babel cuma ngulang doang, moga2 di film selanjutnya bisa lbh mantep lg
Silahkan login untuk memberikan pendapat