Janji Maida 5

Kamis, 29 Okt '09 17:33

 

Ruma Maida

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Penulis: Ayu Utami

Bintang: Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Nino Fernandez

 

Membaca berbagai material promosi dan menemukan nama besar Ayu Utami terpampang di poster filmnya sungguh membangkitkan rasa penasaran. Mungkin karena saya termasuk penggemar 2 novel terkenalnya, Saman dan Larung. Nah, kini sang penulis brilian pun menyentuh layar perak. Akankah hasilnya juga segemilang kiprahnya di dunia sastra?

Film ini dibuka dengan a flawless 3D scene yang mengail sebuah janji bagi penonton. Terbitlah harapan bahwa film ini akan bisa bicara banyak. Pada kenyataannya, film ini memang bertutur banyak. Banyak sekali malah. Saking banyaknya sampai tumpah ke mana-mana. Tuturannya yang sangat banyak ini ternyata harus melewati medium yang menghasilkan cerita-cerita baru yang makin lama makin tidak ada hubungan dengan basic story.

Seharusnya, kisah yang berlatar tahun 1998 ini cukup menarik. Seorang mahasiswi bernama Maida menggunakan sebuah rumah kosong untuk mendirikan sebuah rumah singgah dan belajar bagi anak-anak jalanan. Entah apa yang membuatnya merasa berhak menempati rumah kosong itu, tak pernah dijelaskan sedikit pun sampai akhir. Yang jelas, ketika orang yang mengklaim kepemilikan rumah itu hendak mendirikan sebuah gedung baru di lahan miliknya, Maida pun meradang tak terima. Mungkin karena dia menganggap misinya lebih mulia, ketimbang Dasaad Muchlisin, sang pengusaha yang suka menghujani orang miskin dengan uang dari helikopternya.

Maida lantas berkenalan dengan arsitek yang hendak merubuhkan rumah tersebut, Sakera. Kepribadian Maida yang meletup-letup ternyata membangkitkan rasa tertarik Sakera pada gadis itu. Ketika mereka semakin dekat, Sakera pun memiliki misi untuk mengadopsi arsitektur klasik untuk gedung yang hendak dibangunnya di lahan itu. Namun niat itu dihadang oleh Dasaad Muchlisin yeng menginginkan gedung modern minimalis berbentuk kotak. Tanpa disengaja, Sakera mendapatkan informasi bahwa kemungkinan permasalahan sertifikat tanah tersebut masih bermasalah. Maida jadi bersemangat untuk menelusuri sejarah rumah itu. Dibantu Kuan, mantan tunangan ibunya, Maida menemukan figur Ishak Pahing, seorang musisi legendaris yang konon menginspirasi Bung Karno dalam mendirikan Gerakan Non-Blok.  Penelusurannya atas sejarah Ishak Pahing membawa Maida pada penemuan fakta yang tidak pernah disangka-sangka.

Sekilas kita bisa menangkap niat mulia yang diusung film ini. Sayang sekali, usahanya untuk menjadi politically correct pada akhirnya mengganggu kenyamanan kita menontonnya. Sejak awal, latar di tahun 1998 sendiri tidak ada hubungannya dengan basic story, meskipun dieksekusi dengan cukup keren. Konflik di film ini tidak mendapat aksentuasi lebih dengan latar waktu ini. Artinya, tahun berapa pun latarnya, basic story tidak akan terlalu terpengaruh. Sebaliknya, dengan berlatar tahun 1998, film ini jadi terlalu nyinyir dalam menegaskan sikap, terhadap krisis moneter, kerusuhan, warga etnis China yang jadi korban kerusuhan, reformasi dan lengsernya Soeharto. Bahkan akibatnya malah merepotkan. Misalnya, ada teknologi yang belum muncul di tahun 1998, tetapi tampil di film ini, seperti TV plasma dan beberapa jenis kendaraan yang lalu lalang.

Yang juga sangat mengganggu adalah scene demi scene yang tidak evolve. Film ini sedari awal berusaha membangun konfliknya. Setelah terbangun, lalu penonton disodori twist yang hanya dibacakan sebagai narasi seperti seorang penyiar TV. Total turn off! Selain itu logika film pun seperti babak belur. Misalnya saja karakter Dasaad Muchlisin dicitrakan sebagai orang yang anti sejarah, tetapi ternyata dia sangat sentimental dan mencintai kenangan masa lalunya. Ini diwakili dengan music box yang ternyata selalu dibawa-bawanya sejak bayi. Banyak karakter yang entah dihadirkan untuk apa, seperti saat Wage Rudolf bermain biola atau non-speaking character Muhammad Hatta. Kalau Anda jeli, ada juga ketidakjelasan hubungan kekerabatan pada beberapa karakter. Lagi-lagi sangat mengganggu. Belum lagi repetisi kalimat yang berulang-ulang diucapkan plek ketiplek, tanpa di-rephrase sama sekali. Kalau di novel, mungkin hal itu bisa jadi gaya bahasa yang menarik orang untuk membaca. Tetapi di film, hal itu membosankan.

Bicara masalah akting juga cukup mengganggu. Atiqah yang sebelumnya selalu tampil gemilang, kali ini tidak secemerlang biasanya. Penampilannya tampak sangat menggurui dan preachy, padahal memerankan tokoh yang memiliki kesadaran sosial bukan hal baru baginya. Sementara itu Yama Carlos tampak sangat datar seperti tanpa emosi, sangat mengganggu! Tapi saya harus akui bahwa akting Frans Tumbuan, Verdy Solaeman dan Hengky Solaeman sangat meyakinkan. Bravo!

Intinya, Ruma Maida datang dengan sebuah janji yang menarik. Sayangnya sedikit kurang mulus dalam eksekusinya. 

 

 


Tag: film, Indonesia, sejarah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
ingin menontonnya...
kapan premier nih?
blh dapat tiketnya? hihihihi..: D
alisyah 0 0
pesan yg dibawakan bukannya peristiwa 98 ya? btw film ini kayak film-film lain ga, terakhirnya tersandung masalah cinta?
Michael 0 0
Sejak awal, latar di tahun 1998 sendiri tidak ada hubungannya dengan basic story,

Yang juga sangat mengganggu adalah scene demi scene yang tidak evolve. Film ini sedari awal berusaha membangun konfliknya. Setelah terbangun, lalu penonton disodori twist yang hanya dibacakan sebagai narasi seperti seorang penyiar TV. Total turn off!

---------------------------

haduh ini tipikal film idealis yang kebablasan nih...
penonton gak dapet apa apa...
terima kasih infonya
jadi gak pengen nonton ... : D
alisyah 0 0
Michael:
liat trailernya sih mantap, apalagi filosofinya lumayan keren
misal: 'mereka bukan miskin, tapi mereka dimiskinkan'
trus film ini jg ditonton wapres, pak boed & beberapa mentri
tapi stelah baca review di sini & dari komentar, jadinya kita sama, ga pengen nonton (lol)
kucing_usil 0 0
adek saia yang nonton pilem ini terkesan dengan pengambilan gambarnya yang apik. tapi dia mengakui ceritanya kurang sesuai dengan selera pasar, terbukti dengan terlalu cepat 'turun' dari bioskop : ((

Silahkan login untuk memberikan pendapat