Antara Mak Erot dan Sensor Film 8
Selasa, 6 Okt '09 00:50
Saat persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai hiruk pikuk Lembaga Sensor Film, beberapa insan perfilman menyatakan, bahwa setelah menghabiskan investasi bermilyar milyar rupiah unuk sebuah film. Mereka tak berdaya begitu filmnya memasuki ruang sensor. Intinya lembaga sensor menjadi pengadilan terakhir bagi filmnya.
Apakah ini benar ?
Selalu ada saja yang menarik ketika ngobrol dengan petinggi BP2N ( Badan Pertimbangan Perfilman Nasional ). Ternyata menurut Undang Undang - saat itu - jika ada perselisihan dengan Lembaga Sensor maka BP2N akan bertindak sebagai badan arbitrase yang menengahi sengketa tersebut.
Sambil makan sate ayam, lalu mengalirlah obrolan dengan Pak Sekjen BP2N mengenai kasus artbitrase yang baru saja.
Ceritanya si produser film mengadu ke BP2N bahwa poster filmnya ‘ XL Extra Large, antara Aku , Kau dan Mak Erot ‘ ditolak oleh lembaga sensor.
BP2N : Kalau boleh dijelaskan kenapa poster ini ditolak
LSF : Ya, ini kata Mak Erot sangat tendensius ke pornografi.
BP2N : maksudnya ?
LSF : Khan Mak Erot konon diasosiasikan pembesar alat kelamin pria
BP2N : Lho sebaliknya kalau ada yang mempersepsikan sebagai pengecil alat kelamin bagaimana ?
LSF terdiam dan BP2N meminta sang produser membawa alternatif poster sebagai jalan tengahnya. Keesokan harinya dia datang membawa poster lain, dimana huruf T dari Erot diganti dengan gambar pisang yang kulitnya terkupas seperti huruf T.
LSF : Nah, saya setuju poster ini, jadi dibacanya bukan EROT…. tapi EROJ
PRODUSER : ( melirik ke BP2N …bingung )
BP2N : ( berbisik ke produser..sst sudah terima saja )
Akhirnya proses arbitrase bisa dijalani dan selalu ada kompromi yang memuaskan keduabelah pihak. Poster itu bisa lolos sensor setelah huruf T diganti dengan ilustrasi buah pisang. Pertanyaan saya, bukankah buah pisang justru semakin memperjelas positioning alat kelamin pria. Tapi ini khan persepsi saya dan si pak Sekjen.
Tentu saja lain persepsi si ibu dari Lembaga Sensor. Pisang dalam konteks ini is just a banana, makanya dibacanya Eroj bukan Erot. Bagaimana persepsi anda ?
Tag: Badan Sensor Film, Mak Erot
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
didinu: Informatif
-
penjaja popcorn: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
sabai: Good Take
-
fairyteeth: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
Taruma: Good Take

Komentar:
lagi-lagi ini masalah beda persepsi.
jadi bertanya-tanya untuk menjadi seorang anggota lembaga sensor film itu kriterianya apa aja sih?
Kayak dulu aja: merah = kiri = komunis = subversif = ditangkap.
*ngakak guling-guling*
*break dulu, mau makan pisang*
tsk... bikin geleng2 kepala... *ajeb-ajeb* eh, salah...
Silahkan login untuk memberikan pendapat