Asuransi di Film ? 8

Senin, 5 Okt '09 23:30

Syuting film iklan Telkomsel baru baru membuat sebuah kehebohan. Sebuah Balon udara yang menjadi bagian dari props, meledak dan menciderai sejumlah crew dan talentnya. Ada sekitar 37 orang menderita luka bakar dan beberapa diantaranya sangat serius dan harus menjalani rawat inap.

Pertanyaannya bukan , mengapa bisa meledak. Karena namanya sebuah syuting, tingkat kegagalan atau kecelakaan biasa terjadi.  Yang paling penting adalah bagaimana pihak rumah produksi mengganti biaya ganti rugi penyembuhan. Ini bukan main main, sebuah operasi kosmetik akibat luka bakar bisa mencapai 1 milyar rupiah. Katakanlah satu orang memakan biaya 100 juta , dengan dikali 37 saja, sudah mencapai 3,7 milyar.   Belum kalau  membutuhkan perawatan yang lebih intensif.

Dijamin pihak PH akan jebol dan mungkin tak tahu kemana mencari talangan. Jika tidak tentu saja tuntutan hukum akan dilakukan oleh pihak korban atau keluarganya.

 Tentu saja hal hal seperti ini akan mudah diatasi dari segi pembiayaan jika ada asuransi. Permasalahannya hampir kegiatan syuting di Indonesia, baik layar lebar, sinetron, film iklan,musik klip tidak mengenal asuransi.  Alasannya klise. Biaya akan membengkak karena menanggung premi asuransi.

Jadilah resiko ditanggung sendiri kalau ada crew yang jatuh dari scaffolding, kesetrum atau pemain stunt ketabrak mobil. Jika ada yang harus meninggal, paling paling pihak rumah produksi hanya membayar sisa honor dan sedikit uang saweran duka cita.

 Di luar negeri, aspek asuransi tak hanya mengkover kecelakaan kerja saja.  Ia juga mengantisipasi jika syuting harus tertunda karena hujan, badai, kerusuhan atau bahkan arah matahari yang tertutup awan sehingga mendung !

 Di sini hujan yang menjadi momok, karena bisa membuat molor – dengan konsekuensi biaya sewa alat dan lokasi membengkak – cukup diatasi dengan membayar pawang. Kadang berhasil kadang juga tidak.

Dahulu pernah film “ Daun diatas Bantal “ harus diulang lagi, karena hampir lebih 100 roll filmnya exposed karena magazine atau kamera bocor.  Produser hanya bisa maerah marah dan garuk garuk kepala. Jika ada asuransi tentu hal ini tak akan terjadi.

Namun disisi lain, di Indonesia memang pihak perbankan atau asuransi belum terlalu akrab dengan perfilman.  Beda di luar negeri, sebuah skenario bisa dijadikan jaminan kredit.  Di Indonesia, pihak asuransi akan berpikir ulang menjamin sebuah pembuatan film.  Memang sudah ada lembaga pembiayaan produksi film namun tetap saja tidak mengkover aspek asuransinya.

Ini tantangan menarik bagi  kedua belah pihak , industri film nasional dan juga pihak asuransi. Dari sisi jaminan asuransi tenaga kerjanya, Pemerintah juga seharusnya memikirkan ini. Film sudah menjadi salah satu penggerak ekonomi dari tukang katering, lokasi, pemeran, pekerjanya, penyewaan alat, sampai fasilitas paska produksi. Jika para buruh bisa terjamin melalui jamsostek, kenapa pekerja film tidak ?

 


Tag: film, asuransi, tenaga kerja

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

oksbangs 0 0
Masalahnya siapa yang fee/margin keuntungannya mau dipotong untuk bayar asuransi?
bintang pelem holiwut 0 0
iya.. itu korbannya kesian bgt..

pd cantik2 dan cakep2 ehhh mukanya kebakar gara2 bginian..
gonziie 0 0
wewhh, horor banget ya, kalo ga ada asuransi, marah2 ga guna dan semua jadi terhambat ga jelas..
iya tuh, mestinya kaya di luar negeri : p
antyo 0 0
Saya bayangkan, dari honor termurah buat talent itu, kepotong buat premi kan bisa. Cuma one shot saja kan? Yah kayak masuk ke Dufan atau naik ikut mainan menegangkan di mana itu, tiket kan sudah termasuk asuransi.

Apapun rumusnya, siapa yang mau mulai?
Kalo petugas catering ya diasuransikan oleh juragannya. : )
sabai 0 0
"lebih 100 roll filmnya exposed" ??
wedew... kalo saya produsernya sih udah nangis darah : ((

eh, jadi gimana nasib kru yg terluka krn kecelakaan ini? ditanggung kan?
kuper pilem 0 0
asuransi mungkin belum jadi prioritas di industri film ini

kasihan ya, ngebayang , honor ga seberapa, tapi biaya perawatannya berlipat2 : (
Mia 0 0
Another consideration... My God. Ngomong-ngomong perusahaan asuransi yang bisa handle filmmaking apa saja ya? Thanks.
VJ Narsius 0 0
bingung euy, kalo aku director nya mau bayar pake apa??
snoga aja film-film indonesia mentanggapi hal tersebut.

Silahkan login untuk memberikan pendapat