Fight Club = Kisah Hidup Penulisnya? 10
Minggu, 4 Okt '09 06:43
Entah kenapa, saya mendapat kesan, para penulis (terutama fiksi) hebat itu punya masa lalu yang kelam serta kehidupan yang rumit. Paling tidak, ada satu masa dalam hidupnya dimana dia terbentur dalam pusaran peristiwa traumatis dan terseret dalam pusaran masalah.
Entah benar atau salah, kisah hidup Chuck Palahniuk mengkonfirmasi dugaan saya, dan mendorong saya menonton lagi Fight Club, film yang diangkat dari novelnya. Alasan lain sih memuaskan rasa kangen melihat Brad Pitt masih mudah dan sudah ganteng *glek*
Teman-teman pasti sudah familiar dengan film yang mengisahkan terbentuknya klub underground tempat para lelaki adu jotos, yang berujung pada Project Mayhem, sebuah aksi vandalisme di berbagai kota di Amerika Serikat sebagai wujud pemberontakan dan ekspresi kegelisahan para lelaki itu. Tyler Durden (Brad Pitt) adalah pendiri klub adu jotos ini yang lalu sosoknya berkembang menjadi setengah legenda dan sangat disegani. Cerita dituturkan melalui narasi oleh seorang pria kantoran agen sabun mandi yang diperankan dengan sangat apik oleh Edward Norton. Ujungnya, Tyler tak lain dari alter ego sang salesman.
Nah, dalam kehidupan nyatanya Chuck memang pernah ikut Cacophony Society, sebuah cult yang mengekspresikan anti kemapanan dengan tindakan anarkis, antara lain merayakan pesta natal dengan mabuk dan merusak tempat-tempat umum. Namun Chuck juga ambil bagian dalam berbagai support group, secara suka rela mengantar jemput dan membantu orang-orang dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, seperti kanker. Keterlibatannya berhenti karena tak sanggup melihat kematian menjemput orang yang dibantunya.
Orang tua Chuck bercerai saat ia masih kecil. Setelah Chuck dewasa ayahnya menjalin asmara dengan perempuan yang mantan pacarnya dipenjara karena sexual abuse alias kekerasan seksual. Setelah keluar dari penjara, sang pacar membuntuti ayah Chuk dan kekasihnya, lalu membunuh mereka berdua di rumah perempuan itu dan membakar rumah serta kedua korbannya. Siapa coba yang nggak stress menemukan ayahnya dibantai lalu dibakar dalam sebuah rumah?
Chuck seorang gay yang baru berani coming out setelah dia sangat dewasa. Dengan kehidupan serumit itu Chuck menjadi novelist dengan karya-karya yang memang mencengangkan. Setelah Fight Club, novel pertamanya yang fenomenal, sekaligus empat karya Chuck lain kini tengah disiapkan untuk produksi filmnya, yaitu Rant, Survivor, Invisible Monsters dan Haunted.
Pertanyaan yang lalu mengusik saya adalah apakah seseorang harus menjalani kehidupan yang rumit, bergejolak dan traumatis agar bisa menjadi penulis besar?
Selama ini saya tak pernah tidak mensyukuri hidup saya, dengan segala ups and downs-nya (well, nggak sampe ada anggota keluarga yang dibantai lalu dibakar sih). Namun tiba-tiba terbersit keinginan seandainya saja hidup saya lebih bergejolak.
Ahay… saya kok jadi ngelantur. Sudah ah, saya mau nerusin nonton film yang diangkat dari tulisan mas Chuck. Mbak & mas yang baik, mari silakan beraktivitas kembali. Terima kasih sudah membaca lanturan ini.
<i>Pernah dimuat disini.</i>
Tag: chuck palahniuk, brad pitt, edward norton, novel, fiksi, fight club, mayhem, project, gay
Terkait:
-
Fight Club (1999)
Kamis, 5 Mei '11 11:26 -
Who's The Best Narrator?
Rabu, 24 Nov '10 21:28 -
9 Summers 10 Autumns Akan Hadir di Layar Lebar
Kamis, 1 Mar '12 15:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Box Office
-
kucingsapi™: Box Office
-
didinu: Good Take
-
candrakirana: Good Take
-
yurika: Box Office
-
oksbangs: Informatif
-
KoboySoleh: Good Take
-
mbahdiddo: Good Take
-
AndriaGutama: Good Take

Komentar:
ini juga jadi pertanyaan saya... wew... tapi mungkin juga gak bisa di bilang begitu juga...tapi bisa di bilang begitu juga, saat ada banyak kejadian dalam hidupnya saat itulah dia bisa menceritakan banyak pengalaman yang dituangkan lewat cerita..mungkin gitu kali ya
genre tulisan kita itu memang sebagian besar akan terpengaruh oleh kepribadian kita, pandangan hidup kita, dan sebagainya. dan kita akan cenderung mencari topik2 yang berhubungan dengan kepribadian, pandangan hidup tersebut.
kalau bukunya sepertinya dark, gloomy, traumatic, kemungkinan besar penulisnya memang mengalami masa-masa seperti itu sehingga dia bisa relate (mudah empati) dengan perasaan orang2 yang kurang lebih berada di posisi tersebut, dan berfantasi mengenai mereka.
ntar anak saya seganteng dia ahhhhh...
tidak lupa dengan lagu penutupnya "Where is my mind" dari The Pixies. Pol banget emosinya!
Silahkan login untuk memberikan pendapat