He's Just Not That Into You (2009) 8
Jumat, 2 Okt '09 08:50
ilm ini hampir saja terlewatkan tahun ini kalo nda dapet rekomendasi dari fifa. Rilis bulan Valentine kemaren, tapi cuman pernah denger film ini sekilas2 aja. Entah karena coveragenya biasa2 aja (terlepas dari bukunya yang sangat populer di Oprah), atau saya yang ga terlalu peduli dengan film2 Valentine. Coverage biasa2 aja itu mungkin karena film ini dihiasi oleh deretan castingnya yang bisa terlihat terlalu ambisius. Dan dengan hal itu, kemungkinan untuk slip menjadi another film sampah berhiaskan bintang menjadi sangat besar, apalagi mengingat bahwa ini cuman “sekedar” film romance. Memang sih udah cukup lama nda ngeliat aktor/aktris top berkumpul dalam satu film, dan kali ini, Jennifer Anniston, Jennifer Connely, Drew Barrymore, Scarlett Johanssen, Ben Afflect, Bradley Cooper, Justin Long, rame2 bercerita tentang gimana susahnya menterjemahkan sinyal2 dari lawan jenis untuk mencari pasangan hidup yang bener2 klop. Dan tenyata, disamping dari deretan bintang itu, ceritanya benar2 pas sebagai cermin untuk ngeliat bagaimana kelakuan kita ketika sedang “menjual” diri kita agar segera “laku” dalam mendapat pasangan hidup.
Cara berceritanya sih dibikin sebagai multiple story. Cerita tentang pasangan Beth (Jennifer Anniston) dan Neil (Ben Afflect) yang udah hidup bersama selama 7 tahun, namun Neil tetep tidak mau terikat dengan pernikahan. Pasangan suami istri Janine (Jennifer Connely) dan Ben (Bradley Cooper) yang barusan pindah ke rumah baru. Ben juga lagi tergoda sama Anna (Scarlett Johansson), penyanyi dan instruktur yoga yang terpikat oleh gaya gentlement Ben saat di supermarket.
Anna sendiri lagi dikejar2 oleh Conor (Kevin Connoly), cowok sales real estate yang bener2 tergila2 pada Anna, namun rada kesulitan menterjemahkan sinyal2 dari Anna, karena Anna sendiri juga cuman menganggap Conor sebagai pelarian aja ketika dia sedang patah hati atau lagi suntuk tanpa pasangan. Sedangkan Conor ini ditunggu2 oleh Gigi, cewek yang baru dikencani sekali oleh Conor. Gigi bener2 bertingkah laku sebagai cewek yang selalu menunggu telepon dari cowok2 yang dikencaninya, namun tak satupun yang menelponnya balik. Gigi pun mendapat bantuan secara intensif tentang taktik2 dan arti dari respon dan sinyal yang dikirim oleh cowok2 kepada cewek, dari seorang manager bar bernama Alex. Alex pun bahkan memberi rekomendasi cowok2 yang dikenalnya memiliki reputasi bagus kepada Gigi.
Sementara itu, Mary (Drew Barrymore), seorang cewek di bagian iklan dari tabloid yang sekaligus juga temen baik Anna, juga sibuk memilih2 cowok yang menghubunginya dengan lewat berbagai macam teknologi masa kini seperti email, text messeging lewat messengerchat, blackberry chat, blackberry email, my space, tapi tidak pernah sekalipun lewat telpon.
Dengan model cerita seperti ini, film menjadi bisa dinikmati dengan jauh dari rasa bosan. Hal2 lucu yang digambarkan, serasa menjadi cermin balik dari apa yang sebenernya kita, dan sebagian besar orang rasakan ketika berjuang mengejar-ngejar dan dikejar-kejar oleh seseorang yang mungkin saja menjadi “the one”. Disamping itu, hiasan2 sarkastik tentang hubungan antara cowok cewek melalui komentar2 ketika terjadi perpindahan cerita, membuat energi yang digunakan untuk menikmati film seakan selalu terisi kembali oleh cengiran kelucuan yang ditimbulkannya. Dan dengan itu pula, film ini juga langsung dengan gampang masuk dalam my all time personal favorite romantic comedy ^^
I miss the day when you have one phone number,
and one answering machine.
And that one answering machine house one cassette tape.
And that one cassete tape, either have a message for you from a guy or didn’t.And now,
you just have to go around and checking all these different portal,
just to get rejected by seven different technology.It’s exhausting.”
Tag: film, romantic comedy
Terkait:
-
[Review] Going the Distance: Pemuas Rindu Akan Romcom '80-an
Selasa, 5 Okt '10 15:39 -
Mannequin (1987)
Jumat, 27 Agu '10 22:40 -
The Cherry Project
Rabu, 2 Mei '12 07:44

Komentar:
ringan, tapi dalem
Gue suka karakter yang dimainin Ginniver Goldwin (eh bener nggak ya namanya begini) karena relate banget dengan gue. Gue punya banyak temen cewek yang model-model Ginniver ini, dan entah kenapa gue selalu merasa end up being Jennifer Connely; memberikan nasihat-nasihat kosong bin bodoh yang sebenernya bertujuan untuk membesarkan hatinya, tapi ndilalah sebenernya malah menjerumuskan dia dalam pengharapan semu (CAILAAAAHHH!)
Gue suka episode Jennifer Aniston dan Ben Affleck, endingnya cukup surprising buat gue.
Dan Scarlett Johansson... wohohoho *nyengir*
Silahkan login untuk memberikan pendapat