FTV membosankan 22
Rabu, 30 Sep '09 17:53
Saya tidak ingin mereview film, eh bukan tidak ingin, belum PeDe lebih tepatnya. Jadi untuk sementara saya ingin mengungkapkan rasa bosan saya pada FTV yang sering disiarkan di stasiun tv swasta itu (kalian taulah tv mana yang saya maksud itu). Saya bosan karena ide ceritanya banyak yang sama dengan beberapa film luar yang pernah saya tonton, jadi kesannya cuma meng-Indonesia-kan film luar, hmmm...atau film luar dengan citarasa Indonesia. Dan itu sungguh mengganggu saya.
Kedua, kenapa ya FTV itu hampir selalu mengambil setting lokasi cerita di Bali dan Jogja? Lalu tokoh-tokohnya pun dibuat ke-jawa-jawa-an dengan aksen medhok-nya untuk FTV yang bersetting di Jogja, sementara untuk yang bersetting cerita di Bali tokohnya yang dalam cerita itu sungguh ketauan sekali kalau ngucapin kata yang ada huruf "T"-nya dimantap-mantapkan. Kesan yang saya dapatkan malah mereka seperti memperolok aksen-aksen daerah itu. Kembali ke lokasi, hmmmm....Indonesia itu sangat luas indah, lalu kenapa sekan-akan dalam semua sinetron/FTV, Indonesia itu cuma Jakarta-Jogja-Bali. Apakah karena alasan terlalu mahal biaya yang diperlukan untuk membuat sinetron/FTV di tempat selain ke-3 lokasi yang saya sebutkan di atas?
Terkait:
-
Lomba Cipta Video Klip Garuda Pancasila 2012
Sabtu, 5 Mei '12 23:53 -
Cartoon Network Hadir dalam Format HD
Senin, 23 Apr '12 22:49 -
I Love Indonesia II : Sebuah Refleksi Akhir Tahun
Selasa, 27 Des '11 14:21
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
candrakirana: Good Take
-
sabai: Keep Rolling
-
Tukang Sobek Karcis: Mencekam
-
kucingsapi™: Keep Rolling
-
didinu: Mencekam
-
warm: Good Take
-
oksbangs: Mencekam
-
kniwe: Keep Rolling
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif
-
Ria Tumimomor: Good Take
-
pu3ku: Good Take
-
Taruma: Good Take
-
VJ Narsius: Keep Rolling
Komentar:
jadi satu lokasi *misal di bali* bikinnya ya bisa 4-7 film dalam satu masa. liat aja darri nama rumah produksi sampai asisten sutradara, kok ya itu terus orangnya..
mungkin kontrak juga sih..
ya memang, sebagai penonton saya bosan dan saya kecewa.
saya pengen rating, tapi takut salah2..
saya juga blom paham soal rating, tapi awas kalo sampeyan ngasih rating tulisan saya ancur banget, tak clurit sampeyan
makanya saya lebih senang nonton dorama/film jepang dan korea..
ndak saya rating ancur banget, lha disini ndak ada..
kira-kira gitu. spoler abis bisa diberikan kalo sampeyan sedih krn posting itu byk spoilernya padahal pengin ntn filmnya. isitlah yg lain cukup jelas toh?
saya kira mencekam itu buat horor..
ya..ya.. saya coba rating disini.
penjaja popcorn: test lho ini..
oh iya rating ancur banget ada di sebelah, hahahaha...
dikasih rating mencekam lantaran mau saya clurit ya?
sabai: makasih uni atas penjelasannya
biar gak kesel sendiri
entah itu dialek dari Batak, Manado, Ambon...hingga etnis Cina sekalipun...
Ria Tumimomor: dialek cm dipakai untuk menekankan bahwa setting ceritanya di daerah itu, tapi ndak jarang juga ada yg mengganjal, ceritanya tokoh itu asli Bali, tp kok ngomongnya beberapa kali pake lu-gw
lha wong lokasi cerita di bali kok aksen pelaku masih kaya' orang jakarta, taupun orang jawa? lokasi bisa pindah tapi gak ada karakteristik lokasi, selain rumah yang di bikin kaya' pura kalo di bali atau rumah joglo bangsawan kalo di jogja itu thok!
Silahkan login untuk memberikan pendapat