The Boy In The Striped Pajamas (2008) 11
Selasa, 29 Sep '09 17:31
Cara anak-anak memandang sesuatu memang selalu menjadi hal yang istimewa, yang bisa bikin kita yang udah berumur ini (nda, saya nda akan bilang dewasa, dewasa itu relatif, umur itu absolute ;)) seringkali takjub dengan hasilnya. Dan inti dari cerita film ini adalah, bagaimana kondisi sebuah kamp konsentrasi dari sudut pandang anak-anak, baik itu anak yang berada di dalamnya, dan terutama anak dari keluarga tentara Nazi yang mengepalai kamp konsentrasi tersebut.
Bruno adalah anak dari seorang tentara Nazi yang bener2 berdedikasi pada ideologinya. Suatu saat, Bruno harus pindah ke tempat lain karena ayahnya dipindah tugaskan. Di tempat baru ini, Bruno bener2 merasa kesepian, karena rumahnya yang meskipun besar, tapi terpencil, dan dia dilarang jalan2 terlalu jauh dari rumahnya. Tapi dasar Bruno menganggap dirinya adalah seorang explorer (emang cuman anak cewek berponi doang yang boleh jadi explorer), dia melanggar larangan itu, dan mulai menjelajah daerah di sekitar belakang rumahnya. Dia kemudian menemukan pagar berkawat duri dengan seorang anak berpiyama garis-garis yang sedang duduk sendirian di baliknya.
Dan hari2 berikutnya, kedua anak ini pun menikmati untuk saling ngobrol, tentang apa yang telah mereka lalui. Bruno pun sering membawakan makanan dan mainan, dan melontarkan banyak pertanyaan tentang kenapa sih sang anak yang bernama Shmuel itu ada di balik pagar itu. Dan meskipun Shmuel menceritakan apa yang dialaminya dengan penuh keprihatinan, di pikiran Bruno, dunia di dalam pagar itu keliatannya asik. Aneh, tapi asik. Mereka boleh pake piyama sepanjang hari, dimana di piyama itu ada nomernya, dan setiap orang punya nomer yang berbeda. Banyak anak2 yang bisa jadi temen disana, sementara dia sendirian terus sepanjang hari di rumahnya, dan hal2 lain yang bikin dia penasaran.
Ketika Shmuel bercerita bahwa ayahnya tidak pulang ke kamar mereka, Bruno pun segera menawarkan bantuannya untuk mencari. Dia membawa cangkul, membuat lubang di tanah, dan masuk ke dalam sisi lain ke dalam pagar. Bruno pun memakai piyama yang dicurikan oleh Shmuel untuknya. Setelah itu, Bruno berbaur ke dalam kamp, mencari2 ayah dari Shmuel, namun justru pada saat itu, mereka digiring oleh tentara Nazi, menyuruh semuanya melepas pakaiannya, untuk dimasukkan berdesakan di satu ruangan dan menghadapi apa yang dideskripsikan oleh Shmuel sebagai mandi shower bersama-sama.
Ayah Bruno yang akhirnya tau bahwa anaknya telah masuk ke dalam kamp yang dikelolanya, tidak bisa berbuat apa-apa ketika ruang gas itu udah terlanjur dioperasikan oleh anak buahnya. Rencananya untuk memindahkan anak2 dan istrinya kembali ke kota menjadi sedikit terlambat karena Bruno udah terlanjur punya pandangan lain tentang kamp tersebut.
Cerita tentang sudut pandang anak2 terhadap sebuah kamp konsentrasi ini sebenernya juga udah ada pada film terbaik tahun 1997, La Vita e bella (Life is beautifull). Namun sedikir perbedaannya bahwa difilm itu, sang ayah dengan sangat mengharukan. bener2 berusaha untuk membentuk sudut pandang itu agar anaknya tetep merasa baik2 saja di tempat yang sangat tidak baik untuk anak-anak. Disini, Bruno bener2 membuat persepsinya sendiri berdasarkan dari cerita2 yang disampaikan oleh Shmuel. Piyama bergaris-garis itu tentu saja adalah seragam tahanan, dan orang2 yang dideskripsikan Bruno sebagai orang2 yang spesial karena mau berpindah profesi dari dokter, insinyur, pelukis, dan lain2 menjadi seorang petani dan pengupas kentang adalah para tahanan pada masa penguasaan Nazi.
Terkait:
-
The Cherry Project
Rabu, 2 Mei '12 07:44 -
1208 pengunjung ikut meramaikan Malang Film Festival 2012
Selasa, 10 Apr '12 03:18 -
Zhendy Zain: Film Ini Mengubah Hidup Saya
Kamis, 29 Mar '12 15:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
penjaja popcorn:
-
Tukang Sobek Karcis:
-
kniwe: Informatif
-
sabai: Informatif
-
bintang pelem holiwut: Informatif
-
kucingsapi™:
-
didinu: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
Taruma: Informatif

Komentar:
eniwei, sori deh kalo berspoiler.. lain kali akan coba diilaingin spoilernya..
eh, tapi bukanya ini bicara film yah,
gimana mo bicara kalo blum nonton ?
dan kalo udah sama2 nonton, gimana mua ga ngomongin spoiler ? hihihi
*ngeyeeeeeeel*
untuk emosi, emang rada kurang horrofied sih,
secara endingnya di buku emang berasa bener2 horrified gitu..
resiko baca review ya mmg dapet spoileran... *ileran?
yuk nonton bareng..
Silahkan login untuk memberikan pendapat