Titian Serambut Dibelah Tujuh 15
Senin, 28 Sep '09 20:25
Leha menanti Pak Guru Ibrohim sambil bersembunyi di balik sebatang pohon besar. Begitu Ibrohim sampai di depan matanya, Leha langsung menyergapnya, meminta Ibrohim mencumbunya. Ibrohim menolak, juga menolak ajakan Leha untuk kabur dari kampung dengan iming-iming uang yang cukup banyak untuk mendirikan sekolah. Ibrohim berusaha lari, tapi Leha sempat merenggut baju kaosnya di bagian belakang sebelum Leha sendiri lalu lari keliling kampung sambil berteriak-teriak ia baru saja diperkosa Ibrohim.
Itu baru satu dari (setidaknya) tiga adegan upaya pemerkosaan di film Titian Serambut Dibelah Tujuh karya Chaerul Umam yang dirilis tahun 1982 ini. Titian Serambut mengisahkan seorang guru mengaji muda, Ibrohim, yang baru datang ke sebuah desa dan harus berbenturan dengan tantanan desa yang berbalut fitnah dan kemunafikan. Misalnya dari tokoh guru ngaji senior yang sanga t dihormati tapi sebenarnya rutin menerima uang hasil judi dan menyimpan dendam pada seorang gadis manis yang terus-terusan ia katai iblis. Pasalnya di gadis yang nyaris diperkosa, malah difitnah berzina oleh pemerkosanya.
Akibat fitnah itu pula, rumah gadis itu didatangi orang-orang kampung yang lalu menyeret dan memasungnya di sebuah gubuk di tengah ladang. Orang tua si gadis tidak bisa berbuat apa-apa karena ‘hukum adat’ menghendari demikian. Ibrohimlah yang lalu merasa terpanggil untuk menghibur dan rajin mengunjungi gadis itu, bersama adik lelakinya, tentu dengan dalih menghindari fitnah.
Apakah lalu Ibrohim tampil sebagai pahlawan yang memperjuangkan nasib si gadis dalam pemasungan ini? Untungnya tidak. Si penyebar fitnah, seorang pria ugal-ugalan sumber masalah, kembali memperkosa gadis di kampung tetangga sebelum akhirnya di keroyok massa, dan mati terantuk batu saat berusaha melarikan diri.
Chaerul perlu tiga kasus pemerkosaan untuk menggemparkan sebuah desa kecil yang selalu berkabut di salah satu pelosok Sumatera Barat. Sesuatu yang agak over dosis menurut saya, apa lagi hanya untuk menggambarkan betapa mudah masyarakat desa itu terprovokasi dan termakan fitnah. Tapi tak mengapa. Saya memilih untuk terus menikmati film lawas ini, mumpung Kineforum memutarnya di TIM 21, mungkin dalam rangka memasuki bulan Ramadhan.
Konon Titian Serambut pada masanya sangat disukai dan sempat menggemparkan Sumatera Barat. Saya yang ketika film ini rilis masih balita, mendengar cukup banyak tentang film ini sehingga sangat penasaran, seperti apa sih filmnya. Ternyata, sama sekali tidak mengecewakan. Tempo filmnya tidak lambat, alur ceritanya pun menarik untuk disimak meski dengan petunjuk baju Ibrohim yang sobek di punggung itu endingnya jadi mudah ditebak.
Satu hal yang menarik dari film ini adalah, tampaknya, Chaerul berusaha menggambarkan homoseksualitas di sebuah desa kecil yang –tampaknya- memegang teguh syariat Islam. Sayang, isu ini tidak digali lebih dalam. Hanya tampak dari tokoh pria paling kaya di desa itu yang gemar berjudi dan punya semacam asisten pribadi seorang pria muda yang menyertainya kemana-mana, termasuk ke area di balik sarung. Maka, istri pria itu, perempuan muda bernama Juleha yang selalu berkonde rapi dan berkebaya dengan bustier menjulang pun kesepian.
Tampak sang sutradara mengangkat isu ini dengan cara yang cukup subtil. Sang suami digambarkan tidur (dan bercanda kelon-kelonan) di teras rumah bersama anak muda asistennya., sementara sang istri, Juleha, menggeliat gelisah sendirian di pembaringan berkelambu. Ada pula adegan Juleha duduk di kursi minta dipijat kepalanya oleh seorang pembantu perempuan. Juleha tampak sangat menikmati pijatan itu, sampai tangan si pembantu ujung-ujung menelusup ke balik bustier Juleha. Adegan-adegan ini menyisakan satu pertanyaan di kepala saya, bagaimana ya reaksi publik ketika itu?
Tag: chaerul umam, serambut, perkosaan
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kucingsapi™: Informatif
-
didinu: Good Take
-
kniwe: Informatif
-
fairyteeth: Good Take
-
oksbangs: Good Take
-
Taruma: Good Take
-
Haris Fadli: Good Take
-
Rasjid: Good Take

Komentar:
Baca ceritanya Leha jadi inget bagaimana Yusuf (Ibrohim kalo di film) akan di perkosa oleh putri yang mengagumi ketampanan nabi Yusuf hihih persisi mirip
Meskipun demikian, yang jelas versi 1982 ini masih merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang paling saya suka...
*masih penasaran soal umur sabai
*komen ndak penting
*summon kucingsapi™
*summon kucingsapi™
Silahkan login untuk memberikan pendapat